Kabarancak COMEBACK

Hi JEBLOGERS!!! kabarancak hadir lagi ditahun 2012

Desain Kamar Keren

Siapa yang tidak akan tergoda dengan desain kamar yang apik seperti berikut...

Tampilkan postingan dengan label Belajar Jadi Penulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Jadi Penulis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 April 2010

Sebuah Jeritan Hati Part. 2

Posted On 8:11:00 AM by Ujib 1 cuapan

Kayuhan sepeda yang merupakan hasil dari kerja keras Ron selama ini selalu membuat peluh tak henti mengucur dipagi hari saat hendak berangkat kesekolah. Tak pelak hal ini selalu membuat dirinya untuk mandi kembali saat sampai disekolah. Beruntung fasilitas yang terdapat disekolah Ron sangat lengkap, apa yang dibutuhkan selalu ada, sehingga membuat seluruh warga sekolah merasa nyaman berada dilingkungan sekolah.

Jarak yang cukup jauh antara rumah dan sekolah memang menjadi hambatan yang cukup besar bagi Ron, apa mau dikata Ron tak bisa meninggalkan orangtuanya didesa. Ia harus membantu pekerjaan orangtuanya yang segudang itu hanya untuk sesuap nasi. Pihak sekolahpun telah menyarankan agar Ron tinggal saja di asrama sekolah yang memang fasilitasnya lengkap agar tidak menghalangi Ron dalam berprestasi. Tapi Ron menolak, ia sudah bertekad kuat untuk tetap tinggal bersama orangtuanya karena orangtuanya lebih membutuhkan didesa sana, padahal orantuanyapun sudah mengikhlasan Ron untuk tinggal di asrama saja. “Tidak apa – apa nak, kamu tinggal diasrama saja, toh disana kan fasilitasnya lengkap bisa menunjang pendidikan kamu”, saran dari Bu Rat. “Bu, aku ingin tinggal disini saja. Aku ingin bantu ibu sama bapak. Kalau masalah fasilitas itu kan bisa aku manfaatkan disekolah”, jawab Ron dengan santai dan tegar. “Ya sudah kalau kamu tinggal disini terserah kamu, tapi jangan sampai menghambat pendidikan kamu ya nak!”.

Sikap Ron yang rendah hati dan ramah kepada semua orang membuat semua pihak yang ada disekolahnya mengenal sosok dirinya yang berwibawa tapi tetap penuh canda. Berangkat dari rumah usai Shubuh menuju sekolah sambil mengantarkan gorengan ke warung – warung telah menjadi “makanan” Ron sehari – hari. Biasanya Ron sampai disekolah jam 6.15, iapun langsung menuju kamar mandi asrama. Melewati kamar – kamar para murid. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 6.15 tapi masih ada saja teman – temannya yang terlelap pulas terbang bersama mimpi mereka di alam bawah sadar sana.

Jam masuk berdering pukul 7.45, masih ada waktu cukup banyak untuk belajar. Seusai mandi iapun langsung menuju kamarnya yang diisi oleh tiga sahabatnya. Walapun tinggal dirumah orangtuanya, Ron tetap diberikan kamar di asrama oleh pihak sekolah karena mengetahui bagaimana kebiasaannya dan itu juga merupakan permintaan Ron.

Tok, tok, tok,, “assalamu’alaikum!!!”, Ron mengetuk pintu. “Wa’alikumsalam”, sahut penghuni kamar dari dalam. Ternyata Rahman, Satri, dan Hanif sedang asik dengan kesibukan masing – masing. Seperti biasanya saat Ron datang kamar sudah dalam keadaan rapi. Awalnya kamar mereka sangat berantakan, keberantakan ini berubah 180 derajat setelah kedatangan Ron. Dulu Ron sempat menginap beberapa hari di asrama, hal ini dikarenakan ujian naik kelas akan segera tiba. Karena Ron sudah terbiasa bersih, rapi, dan mandiri, maka biasanya setiap pagi ia mengajak teman – temannya untuk merapikan kamar. Bagi yang tidak mau, olokan dari mulut Ron yang sangat pedih akan mendarat dikuping dan itu akan sangat membuat telinga menjadi panas. Sangat kontras sekali dengan pribadi Ron yang biasanya. Ron memang unik. Didalam sikapnya yang terbilang baik juga terdapat sisi “jahat” yang tentunya bermanfaat dan ia gunakan untuk berbuat kebaikan. Karena tidak tahan dengan olokan Ron,akhirnya mereka mulai terbiasa dan menjadikan bersih – bersih sebuah kebiasaan bahkan kebutuhan.

>_<



Senin, 29 Maret 2010

Sebuah Jeritan Hati Part. 1

Posted On 2:04:00 AM by Ujib 0 cuapan

Kadang kala manusia itu tidak pernah puas dengan apa yang sudah diperoleh, kadang kala manusia itu larut dalam genggaman harta dan tahta yang dimilikinya, kadang kala manusia itu tidak sadar bahwa ia sudah terbudakkan oleh harta dan kesenangan dunia. Walaupun sudah bertubi – tubi teguran yang diberikan Tuhan kepadanya, tetap saja ia tak bergeming akan peringatanNya.

Sebuah keluarga bahagia akhirnya hancur hanya karena kesenangan dunia yang toh tak akan ia bawa sampai kehidupan selanjutnya yang akan ia lalui.

Ron, sebuah nama yang diberikan oleh sepasang insan yang diamanahkan oleh Tuhan untuk menjaga harta berharga yang diberikanNya itu. Tinggal disebuah gubuk reot ditengah – tengah hamparan hijau nan penuh dengan makhluk unik ciptaanNya. Walaupun hanya itu istana yang ia mereka miliki, Allah Yang Maha Kuasa tetap menjadi tumpuan untuk tetap menjejaki kehidupan yang penuh nestapa dan cobaan.

Ibu Ratna dan Bapak Syaifudin itulah nama orang tua Ron yang hanya berlatar belakang pendidikan sekolah dasar yang itupun tak dapat terselesaikan dikarenakan himpitan ekonomi yang “mencekik” masing – masing keluarga mereka.

Sebagaimana masyarakat zaman dulu, biasanya memiliki banyak anak dengan alasan menurut kepercayaan nenek moyang banyak anak banyak rezeki. Hal itu pulalah yang menghampiri keluarga Pak Syai dan Ibu Rat. Mereka memiliki banyak saudara dan semua sudah menikah dan memiliki momongan. Kadang karena saking banyaknya keponakan, mereka jadi sering lupa masing – masing namanya. Hal itu pulalah yang sering jadi bahan tertawaan untuk menghibur suasana ditengah keadaan yang meradang.

Melihat saudara mereka memiliki momongan tak membuat mereka tergiur untuk berprogram “banyak anak banyak rezeki” pula. Pak Syai dan Bu Rat adalah orang – orang pintar yang mengerti akan keadaan masa kini. Saat tengah mengenyam pendidikan dulu sebenarnya mereka memiliki prestasi yang luar biasa, tapi lagi – lagi himpitan ekonomi tak mengizinkan mereka untuk terus berkarya. Tapi mereka terus mengikuti perkembangan zaman, pemikiran mereka mengalir sesuai dengan perubahan gaya hidup masyarakat. Tapi mengapa mereka tetap terkekang oleh kemiskinan yang mendera? Hanya kuasa Allah SWT lah yang akan merubah nasib mereka.

Alhamdulillah mereka diberikan dua orang titipan Allah yang begitu mereka jaga, mereka naungi, dan mereka didik semaksimal mungkin agar bisa menjadi “orang” yang bisa diandalkan bagi agama, bangsa dan Negara, dan bagi mereka tersendiri. Roni Muhammad Ilham dan Rani Syarifah Jamilah, dua orang remaja yang harus kerja keras demi melangsungkan hidup untuk keluarga.

Nasib seperti ini tak membuat mereka minder dengan teman – teman sebaya mereka, apalagi mereka mempunyai sahabat yang selalu ada dikala senang maupun sedih. Permasalahan ekonomi tak menghalangi prestasi menghampiri kakak beradik itu untuk membanggakan kedua orangtua mereka.

Ron yang sekarang telah duduk dibangku SMA terus melaju memberikan kemampuan terbaiknya yang juga menjadi andalannya untuk membiayai pendidikan, dimana hal tersebut tidak bisa terlalu diharapkan dari kedua orang tuanya yang hanya berprofesi sebagai petani desa.

Berhasil bersekolah di SMA favorit dikota membuat Ron semakin giat dan ulet belajar karena sekolah favorit dikota yang notabene biaya pendidikannya begitu mahal tak mau ia sia – siakan begitu saja. “Apalah artinya sekolah dikota, sekolah favorit lagi jika aku tak bisa berprestasi. Aku tak ingin mengecewakan kedua orang tuaku, aku tak mau menjadi beban berat yang harus mereka pikul. Walaupun aku orang miskin, aku tetap berharap setidaknya jangan sampai beasiswa yang aku dapat atas ketidakmampuan ekonomi. Aku tak ingin diremehkan…”. Begitulah pemikiran seorang remaja yang mulai beranjak dewasa itu. Seringkali ia mengingat hal tersebut yang membuat dirinya tak patah semangat.

Sama halnya dengan abangnya, Rina pun begitu. Seolah tidak ingin kalah dengan sekuat tenaga iapun berusaha untuk berprestasi agar orangtuanya tidak terlalu terpikul oleh beban ekonomi yang serasa tidak pernah berhenti menghantui kehidupan mereka.
>_<